Inilah Realita Dalam Rekrutmen Sosial Media

Print

Menemukan kandidat terbaik menjadi tantangan sulit yang harus dihadapi perusahaan. Itu dikarenakan kandidat yang dibutuhkan—tuntutan edukasi dan skill yang tinggi—jumlahnya sangat sedikit. Bisa menarik perhatian mereka berarti kamu harus melakukan marketing perusahaan dengan lebih efektif. Tapi bagaimana caranya?

BACA JUGA: PSIKOLOGI: 12 CARA MUDAH MEMBUAT BOS TERKESAN

Go where the fish are. Begitulah strategi semua orang untuk menangkap ikan, bukan? Hal yang sama juga berlaku dalam strategi rekrutmen. Kamu tidak bisa menarik dan kemudian mempekerjakan talenta yang kamu butuhkan jika kamu tidak berada dalam lingkungan di mana mereka berkumpul dan berkomunikasi. Dan saat ini, hal itu berarti melalui sosial media. Dengan rutin. Pergilah ke beberapa restoran populer saat jam makan siang, dan kamu akan menemukan banyak pengunjung yang tidak banyak bercakap-cakap dengan rekan makan siangnya. Mereka sudah asyik sendiri dengan smartphone mereka, setiap waktu mereka sudah tenggelam ke dalam layar handphonennya.

Apa yang sebenarnya mereka lakukan? Mereka berbagi dan mengonsumsi informasi teraktual dalam jejaring sosial, dan kebanyakan ada hubungannya dengan dunia profesional. Studi terbaru dari Jobvite membuktikan bahwa pencari kerja fresh graduate dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi yang sudah memiliki penghasilan menggunakan Facebook, LinkedIn, dan Twitter untuk mencaritahu tentang budaya perusahaan dan sifat-sifat karyawan. Ini adalah platform tempat mereka ‘beredar’ sehari-hari. Tidak ada alasan bagi perusahaan yang sedang mencari talenta terbaik untuk tidak menjamah dunia online. Kamu tidak bisa memasarkan pasar kepada audiens yang tidak bisa melihat kehadiranmu.

Perluas cakrawala. Namun jangan cepat puas dulu. Kamu tidak bisa terlalu nyaman dengan sosial media yang sudah dimiliki. Memang benar Facebook, LinkedIn, dan Twitter adalah platform paling populer bagi para pencari kerja—dan banyak perusahaan yang sudah melakukan upaya baik pada situs ini. Faktanya, orang-orang akan lebih dan lebih lagi menghabiskan waktu mereka di sosial media untuk mencari pekerjaan dan untuk berkomunikasi lebih intim dengan orang-orang ‘dalam’ perusahaan ketika mencari tahu tentang seluk-beluk perusahaan. Sebagai perusahaan, penting untuk terus mengikuti perkembangan ini. Lakukan dengan profesional layaknya marketer yang baik.

Komunikasikan brand perusahaan dengan baik. Jika semua calon kandidat terbaik berada di luar sana sedang mengirimkan dan menggali informasi, tersedia untuk mereka saja tak cukup. Kamu harus mampu secara proaktif melakukan komunikasi yang efektif. Namun perhatikan ketika kamu melakukannya. Ahli marketing menggunakan aplikasi dan alat khusus untuk mengepost dan memonitor terjadinya engagement dala sosial media. Begitu juga dengan tim perekrut. Berusahalah pahami cara terbaik untuk mengkomunikasikan lowongan pekerjaan dan brand perusahaan dalam berbagai jejaring sosial, sehingga pengalaman positif bekerja dalam perusahaanmu dapat disebarluaskan pada calon kandidat yang ditujuan. Tekankan pada pesan yang ingin disampaikan. Gunakan foto atau video atau posting di blog—apapun media yang bisa menghubungkanmu dengan audiens. Jangan lupakan juga untuk menyediakan cara mudah bagi audiens yang ingin memberikan respon dan terhubung dengan perusahaan.

Satu hal yang pasti: Jika kamu tidak mau membuka diri untuk terkoneksi dalam platform sosial media, kamu bisa saja membangun brand perusahaan dengan keliru. Dan itu merupakan masalah besar jika terjadi. Para calon kandidat yang ingin kamu tuju justru akan dengan mudah memandangmu sebagai perusahaan yang ketinggalan jaman dan antik—bukan sebagai tempat di mana mereka bisa terintegrasi dan membangun karir.

Sedang membuka lowongan kerja? Post lowonganmu di situs lowongan kerja terlengkap dan terupdate www.jobs.id